Salam Alaikum

BismillÃh HirRohmaanir Rohimm

Kata Hikmah AM

~~~... aku BERANI kerana BENAR, lalu aku tidak GENTAR. aku bukan JEBAT, dan aku bukanlah juga TUAH. tetapi, aku adalah hamba doif yang bergelar KHALIFAH di muka bumi ALLAH ...~~~


biar orang hina diri kita tapi jangan kita hina diri sendiri, biar orang lukakan hati kita, jangan kita sesekali melukai diri sendiri, kita berhak atas diri kita sesungguhnya air mata itu adalah penyampai perasaan dan luahan jiwa..

yA AllAh, ApAbIlA ENGKAU mEmAnggIlkU, AmbIlAh AkU dAlAm kEAdAAn KhUsnUl KhOtImAh dAn sEmpAtkAnlAh AkU mEngUcApkAn kAlImAt "LA ILAHA ILLALLAH"

Ahli Jemaah

Network Blogger

Demi Masa

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Dan Penyayang

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.

Segala hakcipta milik Allah S.W.T. Jika difikirkan perlu copy dan sebar, silakan. Tak perlu minta izin.

There’s No Copyright In Islam

Saturday, May 15, 2010

Sebait Doa Buat Guru


TIka dahulu aku hanya sorang murid...
Aku masih ingat, saat kau memarahiku...
Saat kau merotanku...
Namun aku tak akan lupakan saat kau mendidik aku...
Kaulah yang membentuk ku...
Dan kerana kau, aku kini bergelar guru..

TERIMA KASIH IBU BAPA GURU
.................................................................................................

Terpujilah wahai engkau ibu bapa guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Setiap waktu teringat lagu tentangmu membuat hati ini bergolak rindu. Ingin meraih jemarimu dan menciumnya dengan segenap penghormatan dan rasa terima kasih. Karena tanpa ketulusannya, mungkin hari ini kita semua tak kan menjadi seperti ini. Tanpa kesabarannya mungkin banyak diantara kita yang tersesat kehilangan jalan. Ya.. karena dulu berpuluh tahun lalu aku, kami dan kita hanyalah bocah-bocah desa lugu yang tak tahu tentang dunia.

Berhentilah sejenak untuk mengenang para guru tercinta yang telah mengabdikan sebagaian usianya demi mencetak generasi bangsa ini. Orang tua ‘kedua’ yang kadang lebih peduli terhadap masa depan kita dibandingkan para orang tua kandung di kampung halaman saat itu. Mereka sabar dengan ketidaktahuan kita, mereka sabar dengan kenakalan kita, dan mereka pun sabar dengan gejolak masa remaja kita yang kadang kala meledak-ledak. Termasuk barangkalali kita yang saat ini telah sampai di salah satu titik pemberhentian dari titik-titik pemberhentian yang lain menuju cita-cita meraih mimpi dan asa.

Kawan-kawan, sekali lagi sejenak kita kenang mereka, betapa mereka semua telah mengalirkan ilmu berharga dalam sanubari kita, sehingga saat ini kita mampu tegak mandiri. Mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain tanpa rasa malu dan rendah diri. Sampai-sampai hari ini puluhan bahkan ratusan ribu di antara kita telah berdiam di berbagai negara lain di seluruh dunia.

Kita pun bagai anak-anak ayam yang kini terlatih mengais rezeki sendiri lantaran kesabaran sang induk mengajarkan anak-anaknya mencari makan. Bukan mereka memang yang memberi nasib bagi kita, namun sebab merekalah kini kita mampu bertahan hidup dengan bekal ilmu dan keahlian yang pernah mereka ajarkan kepada kita. Bahkan bisa jadi saat ini sebagian di antara kita telah melesat jauh meraih kesuksesan, mencapai keberhasilan, dan menikmati limpahan materi maupun popularitas. Lebih jauh dari apa yang mereka ‘para guru kita’ mampu nikmati pada hari ini.

Namun, semoga kita tak melupakan mereka yang detik ini tak lagi muda. Yang kulit-kulit mereka tak sekokoh dulu. Rambut-rambut mereka tak selegam saat itu. Dan wajah-wajah mereka pun tak secerah waktu itu. Kini tanpa kita sadari, kulit mereka telah mulai berkerut di sana-sini, rambut mereka juga telah dihiasi helai-helai putih yang semakin menyeruak. Dan wajah mereka terlihat sayu menatap hidup ini yang tak semakin bersahabat.

Bisa jadi periuk mereka hari-ini tak se-mengepul kepulan periuk di dapur kita. Bisa jadi sisa gaji mereka hari ini sudah sekarat untuk sampai lagi ditanggal 1 bulan depan. Dan bisa jadi putra-putri mereka meregang nafas untuk tetap bertahan menikmati pendidikan-pendidikan mereka. Tak sedikit diantara mereka yang hari ini masih setia menaiki sepeda ontel tuanya dikala ratusan bahkan ribuan ‘mantan’ anak didiknya menaiki mobil-mobil mewah yang nyaman.

Sahabat, mari basahi bibir kita untuk mendoakan mereka agar tetap ikhlas menjalani tugas muliannya menjadi guru peradaban. Agar dengan keikhlasan itu pahala dari-Nya mengalir deras sampai akhir masa. Agar rizki mereka berkah dan berkecukupan. Hingga di masa tuanya mereka bangga dan bersyukur telah mencetak puluhan juta tunas-tunas baru yang memakmurkan dan mengharumkan negeri ini.

Do’a ini kami persembahkan untukmu, wahai Ibu - Bapa Guru...

:: aku ambil petikan ini hasil karya seorang anak/murid/guru/insan..buat mereka yg bisa terlupa ::

buat semua yang bisa mendidik ku, membimbing ku dan yang menjadikan aku seorang guru...

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...